DESA BUNGKO Cirebon

Ketika Prabu Brawijaya memegang tahta, Kerajaan Majapahit tengah dilanda kehancuran yang ditandai dengan candra sangkala “sirna larut rataning bumi” sekitar tahun 1478 M atau tahun 1400 saka. Hal itu terdapat kesesuaian dengan arti tahun 1400 apabila diartikan dari belakang, yakni sirna = 0 (nol), larut = 0 (nol), rataning = 4(empat), dan bumi = 1 (satu).
Sejak itu para ksatria Majapahit banyak yang berkelana mencari kehidupan baru yang lebih aman, antara lain Jaka Tarub Banjaransari atau nama lain Raden Jaka Taruna yang berasal dari Blambangan. Di suatu daerah yang dianggapnya aman dan jauh dari Majapahit, ia melakukan tapabrata berhari-hari di bawah pohon bakau/api-api. Seusai melakukan tapabrata, ia hendak berbuka dengan memakan nasi tumpeng.
Saat menikmati nasi tumpeng, datanglah seekor bebek ikut nyocor nasi tumpeng yang ada di hadapannya. Tentu saja Jaka Taruna sangat marah karena merasa terganggu, lagi pula nasi tumpengnya dimakan bebek. Sambil mengunyah nasi, ia marah-marah menghalau bebek, dengan suara “ho…ho…ho…”, karena perutnya penuh nasi. Bebek itu terus saja nyocor nasi tumpng tanpa menghiraukan amarah jaka Taruna. Oleh karena sangat jengkel, bebek itu ditangkapnya lalu dibanting “wee…k…”, hingga sekarat terus mati.
Tak lama kemudian datanglah pemilik bebek menemui Jaka Taruna yang menyatakan ketidaksetujuannya dan meminta bebek kesayangannya dihidupkan kembali. Jaka Taruna menjadi bingung. Ia merasa bersalah, namun dirinya tak mungkin dapat memenuhi permintaan untuk menghidupkan bebek yang telah mati.
Terjadilah adu mulut antara pemilik bebek dan Jaka Taruna. Pemilik bebek bersikeras agar bebeknya dihidupkan kembali. “Siapakah orangnya yang dapat menghidupkan binatang yang sudah mati?” Joko taruna bertanya dengan nada keras, akan tetapi pemilik bebek tetap saja menuntut agar bebeknya dihidupkan kembali. Oleh karena merasa kewalahan dan tidak mampu memenuhi tuntutan pemilik bebek, akhirnya joko Taruna berkata, ” Baiklah, siapa pun orangnya yang dapat menghidupkan bebek ini, maka aku akan berguru kepadanya”.
Dengan sangat tenang pemilik bebek memegang bebek yang telah mati itu dan dalam sekejap bebek tersebut bersuara “wee…k…”. Bebek itu hidup kembali dan lari. Merasa dirinya terkalahkan, seketika itu juga tanpa diminta Joko Taruna bersumpah , “Sun ngawula ing Gusti ngantiya babar kiyamat”. Tak salah lagi bahwa pemilik bebek itu adalah seorang waliyullah yang bernama Sunan Gunung Jati yang sedang menyamar. Adapun bebek itu diciptakannya dari sehelai daun
serut. Selanjutnya joko Taruna diterima menjadi muridnya, kemudian diajak ke Puser Bumi untuk mendapatkan ajaran agama Islam.
Jaka Taruna adalah pemuda yang cakap dan banyak memiliki ilmu kanuragan. Ia diangkat menjadi pemimpin pasukan perang dengan sebutan Ki Syeh Benting. Keberanian Ki Syeh Benting di antaranya ketika mengalahkan pasukan Galuh dalam “Talagan Gunung Gundul”, yaitu peperangan antara Cerbon dan Galuh, dan pengusiran portugis dari Sunda Kelapa oleh pasukan gabungan Demak dan Cerbon.
Oleh karena Ki Syeh Benting banyak berjasa terhadap Puser Bumi, ia diberi kekuasaan di sebelah utara Puser Bumi yang diberi nama Bungko. Asal kata “bungko” dari kata “bungka” atau “bengkot”. artinya daerah pemukiman yang dianggap tua dan telah lama dihuni orang. Sewaktu mendapat kekuasaan di Bungko, Ki Syeh Benting terkenal dengan nama Ki Ageng Payuman, dan setelah wafat ia dimakamkan di dekat kuburan Sunan Gunung Jati. Desa Bungko sekarang identik dengan sebuah kesenian yang bernama angklung bungko.

Nama-nama kepala Desa Bungko yang diketahgui antara lain  :

1.  ki Kuwu Jaka
2.  Resi
3.  bujana
4.  Kersa
5.  Redi
6.  kanpi
7.  Kaia
8.  Skim
9.  abam
10. Dani
11. Kadap/ki Ijem
12. Dania
13. Warsia
14. Darmo
15. Raki
16. kemed
17. H.kasih Hartono      : 1975 – 1984
18. Ono                  : 1984 – 1998
19. Ono                  : 1998 – sekarang

Pada tahun 1984 Desa Bungko dimekarkan menjadi dua desa, yaitu bungko Kidul dan Bungko lor.

Nama-nama Kepala Desa Bungko Lor :

1. H.Masykur (Pjs)        : 1984 – 1988
2. Sukardi                : 1988 – 1995
3. Budi (Pjs)             : 1995 – 1996
4. H.Kamsudi              : 1996 – 1998
5. Hadkiya                : 1998 – 1999
6. Rali                   : 1999 – sekarang.